PENDIRI STTKD

HARI-HARI YANG KULALUI SEJAK CATAR II PANASAN SAMPAI PURNABAKTI

Seleksi Calon penerbang AURI

Saya lulus dari SMA Bag B pada tahun 1961 dan meneruskan kuliah di UNPAD jurusan SOSPOL. Suatu hari saya melihat iklan di koran tentang penerimaan penerbang AURI. Entah apa yang ada dalam pikiran saya sehingga saya iseng menulis surat lamaran. Tidak disangka ternyata saya dipanggil untuk mengikuti seleksi di Husein Sastra Negara Bandung. Untuk Jawa Barat yang dipanggil ada lebih dari 1500 calon. Diakhir tes, diumumkan tentang siapa saja yang terus melanjutkan test atau pulang. Pada akhirnya untuk Jawa Barat 6 orang calon penerbang dinyatakan lulus. Bagi calon dari luar Bandung ditampung di mess Rengganis untuk menunggu pemberangkatan ke solo.

Latihan dasar kemiliteran di Panasan

Jumlah angkatan catar II Panasan ada 113 catar dari 3 Jurusan yaitu 33 orang Penerbang dan 80 orang teknik dan administrasi. Dari stasiun kereta kami diangkut dengan truk dan diturunkan di Kartosuro. Dari Kartosuro kami berjalan dan berlari menuju Panasan pusat latihan dasar kemiliteran. Cukup jauh dan meletihkan tetapi menyenangkan karena beramai-ramai . Sampai di Panasan kami dikumpulkan di lapangan dan dibagi–bagi menjadi regu, peleton dan kompi. Bersamaan dengan pembagian tersebut ada juga pembagian perlengkapan dan barak tempat kami menginap.

Pengalaman yang sulit dilupakan bagi saya adalah pada saat latihan menembak dimana dari sepuluh peluru yang saya tembakan tidak ada yang masuk skip. Akhirnya saya dihukum menunggu di parit dibawah skip, mendengarkan peluru berdesingan dari teman-teman yang juga pelurunya kena batu parit bukan kena skip penembakan diatas kepala saya . Hari demi hari dilewati dengan mandi di sungai dan menjadi kesan tersendiri buat saya. Pada akhirnya tiba waktu cuti, saya mencari kain lurik dan oleh-oleh untuk orang tua di Tasikmalaya.

Cuti yang mendebarkan

Saya meninggalkan kuliah di UNPAD dan masuk ke calon penerbang AURI tanpa ijin dan pemberitahuan kepada orang tua. Inilah yang membuat saya khawatir menjalani cuti dan pulang kampung di Salawu Tasikmalaya. Turun dari kereta api di stasiun Tasikmalaya, saya menuju pangkalan AURI untuk lapor datang dan kemudian turut ditempatkan di salah satu hotel di dekat Masjid Agung Tasikmalaya. Seragam yang saya kenakan adalah pakaian hijau dan tanda bunga melati kuning dipundak. Besok paginya dengan naik oplet, saya menuju Salawu kurang lebih 1 Jam perjalanan untuk sampai di rumah orang tua. Dengan penuh was-was saya turun dari oplet di depan rumah, diiringi pandangan semua tetangga melihat dengan penuh tanda tanya siapa dan mau apa tentara ini masuk ke rumah orang tua saya. Kebetulan Bapak, Ibu dan saudara-saudara sedang duduk ditengah rumah. Dan dengan wajah penuh tanda tanya, mereka memandang kaget bercampur rasa takut seorang tentara langsung masuk ke dalam rumah. Setelah topi saya buka memperlihatkan kepala gundul, maka isyak tangispun terdengar dari ibu saya yang memeluk sambil menangis. Bapak saya sendiri memperlihatkan wajah tidak percaya dan bertanya-tanya.


Masuk kampus AAU di Jogjakarta

Setelah lulus pendidikan dasar kemiliteran di Panasan, kami dikirim ke Yogyakarta. Kami diturunkan di kota Yogyakarta dan dibawa lari, tiarap, merangkak, mencebur sungai dan akhirnya masuk gerbang penerbang di AAU Adisutjipto. Selama seminggu, siang dan malam kami dikerjain oleh para cadet senior penerbang. Cukup babak belur merasakan pukulan sarung tinju tapi semua kami lalui dengan “enjoy”. Kami meng anggap ini sebagai penggojlokan dibawah candra dimuka sebagai proses untuk menjadi gatot kaca muda. Selesai penggojlokan oleh para senior, kami dilantik menjadi kopral cadet dengan seragam pada waktu itu untuk cadet penerbang warna dasar pangkat merah.

Mengikuti Ground School

Sebelum terbang para cadet harus mengikuti per kuliahan dan ujian semester seperti di perguruan tinggi lainnya . Ada satu kejadian yang tidak terlupakan bagi saya dari seorang dosen navigasi yaitu Mayor Nav Noorkusadi. Beliau begitu serius mengajar sambil merokok ketika suatu kali tiba-tiba beliau menghisap kapur tulis sementara rokoknya dipakai menulis dipapan tulis. Kami semua tertawa sambil takut-takut. Setelah lulus kuliah kami mulai mengikuti ground school dan mulai terbang dengan pesawat Piper cup atau L-4J. Ada ketentuan dalam pelatihan ini dimana seorang cadet harus bisa terbang solo sebelum 10 jam terbang.

Mengikuti latihan terbang

Setelah lulus ground school kami mulai berangkat ke hanggar untuk latihan terbang. Kami dibagi-bagi dengan instruktur yang sudah ditentukan. Saya kebetulan dapat instruktur seorang kolonel penerbang – Alamsyah yang sangat ditakuti baik oleh instruktur lain maupun cadetnya. Beliau waktu itu adalah seorang pimpinan di AAU dan begitu sibuk dengan waktunya . Saya sangat jarang mendapat giliran terbang karena tidak ada instruktur yang berani mengambil alih cadet beliau jika beliau tidak hadir . Tiap hari saya penuh penantian duduk seharian di cock pit sambil pura-pura latihan terbang, menghapal instrumen dan membayangkan seolah-olah sedang terbang.

Setelah siang barulah beliau datang, kami buru-buru turun dari cockpit dan lari ke hanggar untuk mengikuti “breafing before flight”. Beliau selalu menyuruh para siswanya untuk menjelaskan mengenai L-4J dan cara-cara terbang sebelum secara bergilir terbang. Tempat duduk siswa di pesawat L- 4J adalah di belakang dan instruktur di depan. Untuk menginjak rudder pedal, kaki kami sealalu ada disamping tempat duduk instruktur setiap kali terbang.

Kol Pnb Alamsyah selalu membawa pisau komando dan tangkainya sering dipakai untuk memukul tulang kering siswanya apabila membuat kesalahan atau kurang koordinasi kaki waktu belok kiri atau kanan. Tiap hari ada saja cadet yang di keluarkan dan pulang kampung dan diharuskan bertemu Sersan Mayor Sumarno yang sudah siap menarik kembali kelengkapan cadet terutama jam rolex . Hari demi hari, bulan demi bulan sudah dilewati, sudah banyak yang terbang solo dan banyak juga yang dikeluarkan. Saya baru mengantongi 5 jam terbang dan Kol Alamsyah semakin jarang datang. akhirnya saya diambil oleh May Pnb Anwar dan Alhamdulillah setelah 7 jam saya dilepas untuk terbang solo. Maka berakhirlah latihan terbang dengan L-4J. Setelah pelatihan itu kami melanjutkan kuliah dan tidak terbang lagi. Pada akhirnya cadet teknik dan penerbang di berangkatkan ke Rusia untuk latihan terbang Autonu 22 dan TU 1 6. Namun Allah berkehendak lain, saya beserta 8 orang lainnya dinyatakan gagal test kesekaton karena klep jantung tidak menutup sempurna. Kami dipaksa masuk ke jurusan teknik dan diberi pelajaran di kelas tetapi kami tetap menolak menjadi teknisi . Akhirnya setelah 8 bulan pada bulan Agustus 1995 kami dipulangkan ke Indonesia. Sampai di Jakarta kami mengikuti test kesehatan untuk penerbang di RS Cipto Mangunkusumo dan dinyatakan lulus untuk terbang kembali.

Kembali ke kampus AAU

Setelah mengikuti Ground School untuk mentor T34 A saya bersama 6 orang lainnya mulai latihan terbang lagi termasuk Moersabdo yang tidak ikut ke Rusia dan dinyatakan lulus sebagai penerbang kelas 2 dan dilantik oleh Presiden Sukarno di istana pada tahun 1966. Nasib malang masih tidak terlepas dari kami dimana setelah lulus kami tidak bisa ditempatkan di Skadron Udara karena terbatasnya pesawat dan instruktur yang disebabkan oleh kesibukan operasi dwi kora. Akhirnya kami ditugaskan menjadi komandan batalyon di Wing Karbol AAU sampai dengan tahun 1968 dan pada tahun 1969. ditempatkan di skadron Udara. Nasib sial juga saya alami karena di surat penempatan nama saya tidak ada. Justru yang ada nama Suyono teman kami yang telah meninggal dalam kecelakaan pada waktu pulang ke Semarang. Setelah diurus ke Mabes AU barulah nama Udin Kurniadi yang sudah dinyatakan meninggal dihidupkan kembali dan ditukar kembali dengan Suyono yang dianggap hidup dan di pindah ke Malang .

Penempatan di Wing Operasi 002 Tempur Taktis

Saya lulus penerbang kelas 2 hanya mengantongi jam terbang 113 jam. Tetapi setelah pindah ke skadron 5 wing operasi 002, kami masih tetap menganggur dan tidak terbang. Kami dari lulus tahun 1966 sampai dengan 1971 selama 5 Tahun tidak pernah terbang, tetapi bekerja sebagai staf operasi di Lanuma Abd Saleh dan sebagai staf operasi Wing Operasi 002 Abd Saleh. Baru pada tahun 1971 kami ditugas karyakan menjadi pilot Merpati Airlines. Setelah lulus CPL ( Commercial Pilot Licence ) kami dikirim ke Jepang untuk belajar type rating pesawat YS-11 di ANA ( All Nippon Airways) selama 4 bulan.

Terbang di Merpati Airlines

Syukur Alhamdulillah kami ditugas karyakan menjadi pilot ANA dan terbang dengan pesawat YS-11 buatan Jepang. Pesawatnya sangat lincah dan baik. Bisa mengangkut 60 penumpang namun kadang kami isi sampai 64 penumpang. Demikian asyiknya terbang di M NA sehingga tidak terasa pada tahun 1996 kami harus kembali lagi ke AURI. Tiap hari kami terbang mulai dari Medan sampai Merauke. Semua pulau sudah dijelajahi dan pengetahuan penerbangan sudah cukup kami dapatkan. Jam terbang yang sudah saya kantongi pada waktu itu adalah 5000 jam. Saya kembali ke AURI dengan penuh percaya diri bahwa saya sudah bisa terbang karena sudah menjelajahi seluruh pelosok tanah air. Bersama Merpati ada banyak pengalaman yang tidak terlupakan misalnya pada waktu Take Off di Pinang Malaysia dimana saya lupa memasang flap 15° hingga pesawat tidak bisa naik dengan baik. Ada juga kejadian dimana saya hampir tabrakan dengan Foker 28 Garuda di Rute Pontianak- Jakarta. Saya juga pernah mengalami terkena badai pada saat mau mendarat di Kemayoran dan pernah mau mendarat di Apron Juanda pada waktu cuaca buruk. Pada waktu terbang melalui route Surabaya-Balikpapan saya juga pernah disambar petir dan banyak lagi kejadian-kejadian yang sulit dilupakan.

Kembali ke AURI

Kami 4 penerbang yang dikembalikan dari M NA yaitu Udin Kurniadi, Prio Utoyo, Zaenal Sudarmadji dan Nirwan yang kemudian ditempatkan di Skadron Udara 5. Waktu itu ada tambahan pesawat UF -2 dengan Instruktur John M C Dounal dari USA. Setelah selesai latihan dengan Instruktur dari USA saya diangkat jadi Pjs Komandan Abadron 5 pada tahun 1977. Kami mulai membangun Skadron 5 yang pada waktu itu setengah hidup setengah mati . Siang malam, di darat dan di laut kami berlatih dan berlatih sehingga akhirnya Abadron 5 bisa hidup lagi dan mulai ditugaskan di Natuna dan Tim-Tim. Kami mempersenjatai UF -2 dengan 12,7 roket dan bom. Oleh karena ini saya mendapat teguran dari Mabes AU karena tidak melalui LITBANG. Pada tahun 1980 saya ditugaskan mengikuti SESKOAD dan setelah lulus di tahun 1981 ditempatkan menjadi Kepala Dinas Operasi Lanuma Abd Saleh. Dan tahun 1983 saya dipindahkan menjadi Kepala Dinas Operasi Wing Operasi 002 sampai pada akhirnya di bubarkan pada tahun 1984. Tahun 1985 saya ditugaskan sebagai atase udara di Kualalumpur sampai tahun 1988. Pada tahun 1989 saya ditugaskan menjadi Kadep Matra AAU dan di tahun 1990 ditugaskan menjadi Kasubdit Hublu TNI-AU. Tahun 1991 saya diangkat menjadi Direktur Pengamanan TNI-AU, dan pada tahun 1994 diangkat menjadi Gubernur AAU. Akhirnya pada tahun 1995 saya diangkat menjadi IRJEN AU sampai pensiun pada tanggal 1 November 1995.

Purna Tugas

Setelah pensiun 3 bulan saya mulai merasa kebosanan dirumah. kalau dibiarkan akan timbul stress dan penurunan kesehatan tubuh. Oleh sebab itu menjelang pensiun saya harus punya rencana kegiatan apa yang bisa memberikan kesibukan dan bermanfaat bagi masyarakat atau bangsa. Sering digembor-gemborkan bahwa TNI tidak pernah berhenti mengabdi pada Negara dan bangsa. Karena itu kita harus merencanakan dan membuat langkah-langkah nyata. Bersyukur pada waktu saya menjabat Gubernur AAU saya pernah disentil oleh Koordinator Kopertis Wilayah V Bapak Sutoyo, bahwa di Yogyakarta perlu adanya Perguruan Tinggi yang berkaitan dengan penerbangan. Akhirnya saya membuat Yayasan pada tanggal 1 Oktober 1994 dan bertemu dengan koordinator dan staf untuk menjelaskan rencana pendirian Perguruan Tinggi Kedirgantaraan. Tanggapan dan dukungan Kopertis Wilayah V betul-betul luar biasa dan pada tanggal 29 April 1995 keluarlah surat rekomendasi Kopertis Wilayah V tentang pendirian STTKD ( Sekolah Tinggi Teknologi Kedirgantaraan). Dengan modal 150 juta untuk sewa gedung Graha Karbol 25 juta sewa 5 tahun dan 125 juta pengadaan fasilitas dan renovasi gedung maka berkat Rachmat Allah berdirilah STTKD. Antusias masyarakat betul-betul diluar dugaan, dalam waktu singkat terdaftar 600 calon mahasiswa dan setelah diseleksi dengan ketat dan mengingat daya tampung gedung dan lain-lain maka yang lolos tes masuk 200 calon mahasiswa dengan 3 Jurusan seperti di AAU yaitu: D3 Aeronautika, Elektronika dan Teknik Industri. Pada tahun 1998 kami menambah prodi yaitu D-1 Drafter dan Pramugari. Pada tahun 2002 ditambah jurusan D- 3 Manajemen Transportasi Udara ( MTU), Teknik dan Manajemen Informatika dan D-1 Ground Handling. Kami juga sempat mendirikan Universitas Dirgantara Indonesia tahun 2002 dengan 10 Program Studi. Seiring dengan waktu dan situasi kondisi yang berkembang sampai saat ini yang masih kami kelola adalah STTKD dengan luas kampus 10220 M dan gedungnya 2200 M. Kami berusaha diusia senja tetap produktif dan berguna bagi Bangsa dan Negara tercinta Indonesia.

 

 

STTKD